Pengantar: Transformasi, Janji, dan Paradoks Komunikasi Ilmiah
Selama lebih dari dua dekade terakhir, gerakan Akses Terbuka atau Open Access (OA) telah berupaya mendisrupsi lanskap komunikasi ilmiah global secara fundamental. Berawal dari inisiatif idealis yang berakar pada keterbukaan masyarakat dan liberalisme ilmu pengetahuan, gerakan ini bertujuan untuk mendemokratisasi pengetahuan dengan meruntuhkan dinding berbayar (paywalls) yang selama berabad-abad dibangun oleh penerbit komersial. Niat awal dari gerakan ini adalah untuk memastikan bahwa hasil penelitian, yang sebagian besar didanai oleh uang publik melalui lembaga pemerintah dan universitas, dapat diakses secara bebas, seketika, dan tanpa batas oleh masyarakat luas, praktisi, serta sesama peneliti di seluruh dunia.
Secara konseptual, transisi menuju ekosistem penerbitan yang terbuka menjanjikan percepatan penemuan ilmiah, kolaborasi tanpa batas geografis, dan pengurangan ketimpangan informasi, terutama bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (Low- and Middle-Income Countries / LMICs) yang selama ini terpinggirkan dari wacana akademik arus utama. Namun, seiring berjalannya waktu, pergeseran sistemik dari model tradisional "pembaca membayar" (reader-pays atau subscription) ke model "penulis membayar" (author-pays) telah melahirkan serangkaian paradoks baru dalam ekonomi politik penerbitan akademik.
Evaluasi kritis ini menemukan bahwa meskipun volume publikasi OA terus mengalami pertumbuhan eksponensial dan terbukti mampu meningkatkan visibilitas serta tingkat sitasi karya ilmiah, sistem ini secara tidak sengaja telah mengkristalkan ketidaksetaraan struktural dalam bentuk yang baru. Akses untuk membaca literatur memang telah diupayakan terbuka lebar, tetapi akses partisipatoris untuk mempublikasikan karya menjadi semakin eksklusif akibat lonjakan tajam Biaya Pemrosesan Artikel (Article Processing Charges / APC). Fenomena ini memperkuat hegemoni epistemik negara-negara Global North sambil mengeksploitasi peneliti dari Global South melalui metrik akademik yang bias.
Lebih jauh lagi, model bisnis penerbitan OA komersial yang sangat bergantung pada volume publikasi (karena pendapatan ditarik dari setiap artikel yang diterbitkan) telah memicu krisis integritas ilmiah berskala besar. Industri ini kini menghadapi ancaman eksistensial berupa operasi peretasan sistematis oleh pabrik makalah (paper mills), manipulasi tinjauan sejawat (peer review), dan belakangan, komplikasi hak cipta yang ditimbulkan oleh ekstraksi data berskala industrial oleh model Kecerdasan Buatan Generatif (Generative AI).
Laporan komprehensif ini akan membedah tren publikasi OA secara mendalam, menelusuri dinamika saintometrika global, merinci keruntuhan integritas akibat model bisnis APC, serta menganalisis respons kebijakan institusional seperti Plan S, inisiatif Diamond Open Access, dan Coalition for Advancing Research Assessment (CoARA). Secara khusus, analisis ini akan menyoroti posisi anomali Indonesia—negara yang saat ini memegang rekor sebagai entitas dengan jumlah jurnal OA terbanyak di dunia, namun ironisnya bergulat dengan kualitas dampak keilmuan yang rendah akibat distorsi sistem evaluasi metrik nasional (SINTA).
Lanskap Saintometrika dan Dinamika Kuantitatif Open Access Global
Pertumbuhan Publikasi dan Keunggulan Dampak Sitasi (Citation Advantage)
Data saintometrika global memberikan gambaran yang jelas mengenai lintasan adopsi publikasi akses terbuka, yang terus didorong oleh mandat dari lembaga pendanaan penelitian terkemuka dan pergeseran preferensi peneliti itu sendiri. Analisis spesifik terhadap ketersediaan literatur OA, dengan menggunakan disiplin ilmu saintometrika sebagai studi kasus selama periode 2012–2021, mengungkapkan dinamika yang mencerahkan. Dari total 6.679 publikasi yang diekstraksi dalam disiplin ini, rasio Publikasi Open Access (OAP) secara agregat masih berada di angka 35,57%. Dari publikasi inti yang dianalisis dalam rentang waktu tersebut (5.046 total publikasi), hanya 38,66% yang diterbitkan di platform terbuka, sementara 61,34% sisanya masih terkurung dalam platform non-OA.
Namun, meskipun secara kuantitas masih menjadi minoritas, publikasi OA menikmati keunggulan dampak (citation advantage) yang sangat signifikan. Berdasarkan data periode tersebut, total sitasi untuk publikasi OA mencapai 19.947 dengan nilai h-index 59, dan mencatatkan rata-rata nilai sitasi 10,22% lebih tinggi dibandingkan dengan publikasi non-OA yang mengumpulkan total 19.969 sitasi dengan h-index 57. Tren ini menegaskan bahwa artikel yang dipublikasikan secara terbuka memiliki kemungkinan jauh lebih besar untuk ditemukan, dibaca, dan pada akhirnya disitasi oleh komunitas akademik global. Tingkat pertumbuhan tahunan publikasi OA di bidang ini mencapai 28,92%, sebuah angka yang mengindikasikan adanya momentum sistemik yang kuat menuju akses terbuka.
Studi tentang dampak OA terhadap keragaman sitasi juga menunjukkan korelasi positif, di mana karya-karya OA tidak hanya disitasi lebih sering, tetapi juga diakses oleh demografi khalayak yang jauh lebih luas dan inklusif.
Fragmentasi Rute OA dan Tren Adopsi Institusional
Sistem publikasi terbuka tidak berevolusi menjadi satu jalur tunggal yang homogen, melainkan terfragmentasi ke dalam beberapa rute utama yang memiliki implikasi finansial, lisensi, dan hak cipta yang sangat berbeda bagi ekosistem akademik. Dalam praktiknya, kontributor ilmu pengetahuan harus bernavigasi di antara pilihan-pilihan berikut:
Rute Open Access
Definisi dan Mekanisme Struktural
Implikasi dan Karakteristik Utama
Gold OA
Artikel langsung tersedia secara gratis di situs web jurnal seketika setelah diterbitkan. Penulis, institusi, atau lembaga penyandang dana membayarkan Biaya Pemrosesan Artikel (APC) kepada penerbit.
Menghasilkan pendapatan masif bagi penerbit komersial. Biaya APC bervariasi dari $500 hingga melampaui $9.500 per artikel. Memicu masalah ketidaksetaraan geografis (pay-to-publish).
Green OA (Self-Archiving)
Penulis menyimpan versi pracetak (preprint) atau versi akhir yang telah disetujui (Author Accepted Manuscript/AAM) di repositori institusional, regional, atau repositori subjek.
Secara fundamental bebas dari biaya APC. Sangat rentan terhadap pembatasan periode embargo (biasanya 6-12 bulan) oleh penerbit langganan.
Hybrid OA
Jurnal berlangganan tradisional yang tetap tertutup di balik paywall, namun memberikan opsi kepada penulis untuk membuat artikel individu mereka menjadi OA dengan membayar APC tambahan.
Dikecam secara luas karena menciptakan fenomena double-dipping (penerbit meraup pendapatan ganda dari biaya berlangganan perpustakaan dan biaya APC penulis).
Diamond / Platinum OA
Jurnal atau platform komunitas yang mempublikasikan artikel secara terbuka tanpa memungut biaya dari pembaca maupun biaya APC dari penulis.
Model yang paling berkeadilan secara sosial. Pendanaan operasional diperoleh melalui konsorsium perpustakaan, universitas, atau hibah pemerintah.
Bronze OA
Artikel yang tersedia untuk dibaca secara gratis di situs penerbit, namun tidak memiliki lisensi terbuka yang jelas (misalnya Creative Commons), sehingga tidak dapat didistribusikan ulang.
Status terbuka dapat dicabut kapan saja oleh penerbit karena mereka memegang kendali penuh atas hak cipta.
Data dari studi pemetaan rute OA menunjukkan preferensi yang menarik. Dari 1.951 publikasi OA dalam sampel studi saintometrika, rute Green OA adalah pendekatan yang paling banyak diikuti oleh para penulis dengan total 1.350 publikasi, menerima sekitar 21.149 sitasi dan mencatatkan h-index 58. Pendekatan hibrida (Hybrid Gold) merupakan yang paling tidak diminati, hanya mencatatkan 209 dokumen, meskipun secara paradoks mampu meraih tingkat h-index yang relatif tinggi (22) mengingat basis jurnal berlangganan biasanya memiliki reputasi metrik yang sudah mapan.
Geopolitik Publikasi: Hegemoni dan Kesenjangan Regional
Dinamika produktivitas OA juga mencerminkan pergeseran kekuatan geopolitik dalam produksi ilmu pengetahuan. Tiongkok telah muncul sebagai negara paling produktif di dunia dalam mengadopsi penerbitan OA, secara konsisten mendominasi posisi puncak di berbagai disiplin ilmu kritis seperti Farmakologi, Toksikologi, Farmasetika, Teknik Kimia, dan Ilmu Lingkungan. Namun, analisis metrik kolaboratif mengungkapkan sebuah isolasi relatif: publikasi OA dari Tiongkok cenderung memiliki jaringan kolaboratif internasional yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Inggris Raya. Hal ini mengindikasikan bahwa ledakan kuantitas publikasi OA Tiongkok sebagian besar didorong oleh pendanaan domestik dan kebijakan insentif internal, bukan melalui integrasi mendalam ke dalam jaringan riset global.
Di sisi lain, institusi-institusi yang secara konsisten menduduki peringkat teratas dalam memproduksi literatur OA bermutu tinggi dengan paparan internasional terbesar didominasi oleh negara-negara Eropa, seperti Jerman (misalnya Administrative Headquarters of the Max Planck Society dan Goethe-Universität Frankfurt) serta Belanda (Universiteit Leiden dan Universiteit van Amsterdam). Institusi-institusi dari negara maju ini tidak hanya menikmati sumber daya pendanaan yang superior untuk membayar APC, tetapi juga memiliki infrastruktur kebijakan yang mendukung transisi mulus menuju ekosistem OA.
Tantangan struktural yang berbeda dialami oleh negara-negara berkembang. Sebagai contoh, analisis mengenai tren publikasi OA di perguruan tinggi negeri di kawasan Timur Laut (Northeast) India dari tahun 2004 hingga 2023 menunjukkan peningkatan lambat dari 0,24% menjadi hanya 16,13%. Meskipun model Gold OA mendominasi (45,65%), inisiatif seperti Diamond dan Green OA masih sangat kurang dimanfaatkan (masing-masing 8,17% dan 13,12%). Studi tersebut menyoroti tiga hambatan fundamental yang melumpuhkan adopsi OA di wilayah pinggiran: ketiadaan kebijakan institusional yang mengikat, keterbatasan pendanaan riset untuk APC, dan infrastruktur digital yang tidak memadai. Di kawasan ASEAN, negara-negara terus berjuang memetakan kapasitas riset mereka; sementara Malaysia memimpin dengan lebih dari 2.051 peneliti berkinerja tinggi, angka ini masih tertinggal jauh di belakang Jepang dan Korea Selatan.
Ekonomi Politik Penerbitan Akademik dan Krisis Biaya
Upaya untuk memahami tren Open Access tidak akan lengkap tanpa membedah struktur ekonomi politik industri penerbitan akademik. Penerbitan ilmiah, yang pasca Perang Dunia II berawal sebagai kegiatan nirlaba yang didanai oleh kelompok ilmuwan atau perhimpunan profesi (learned societies), kini telah bertransformasi menjadi salah satu industri paling menguntungkan di planet ini.
Monopoli Komersial dan Margin Keuntungan
Pada tahun 2024, industri penerbitan ilmiah global mencatatkan total perputaran pendapatan mencapai lebih dari $12 miliar, dengan margin keuntungan agregat mendekati 40%. Analisis pasar secara spesifik menunjukkan bahwa penerbit raksasa (oligopoly) mengantongi margin keuntungan yang jauh melampaui perusahaan-perusahaan teknologi multinasional. Elsevier, misalnya, beroperasi dengan margin 38,4%, Wiley dengan 32,1%, dan Springer Nature dengan 27,7%. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan raksasa teknologi konsumen seperti Apple (24,6%) atau Google (21,2%). Tingginya profitabilitas ini terutama disebabkan oleh fakta bahwa bahan baku industri ini (naskah artikel) dan proses kontrol kualitasnya (peer review) diberikan secara cuma-cuma oleh para akademisi yang digaji oleh institusi publik, sementara penerbit memonopoli komersialisasi produk akhirnya.
Kondisi oligopolistik ini terlihat jelas dari data pangsa pasar, di mana kelompok segelintir penerbit mengontrol mayoritas output. Analisis terhadap penerbit megajurnal (mega-journals) menemukan bahwa pasar ini dikuasai oleh segelintir pemain, dengan Springer Nature memegang 35% dari total judul jurnal besar dan Public Library of Science (PLOS) memegang lebih dari 20% total volume artikel megajurnal.
Hiper-Inflasi APC dan Ketidaksetaraan Distribusi Pengetahuan
Model Gold OA pada mulanya diperkenalkan dengan argumen bahwa mekanisme pasar bebas akan mendorong para peneliti untuk mempertimbangkan "harga jurnal" sebelum menerbitkan karya mereka, yang secara teori akan menekan harga ke bawah. Namun, realitas pasar berbicara lain. Model ini justru mengalami hiper-inflasi, dibiayai oleh hibah institusional yang bersedia membayar mahal demi gengsi metrik.
Sebuah studi memperkirakan bahwa pengeluaran global untuk APC meningkat hampir tiga kali lipat dari $910,3 juta pada tahun 2019 menjadi $2,538 miliar pada tahun 2023. Secara global, biaya rata-rata publikasi per artikel untuk model jurnal konvensional diperkirakan sekitar $1.447. Akan tetapi, dalam ekosistem OA saat ini, median APC yang dibayarkan melonjak menjadi sekitar $2.450 untuk jurnal murni Gold OA, dan $3.600 untuk jurnal Hybrid OA. Tarif ini bervariasi secara ekstrem, mulai dari angka $500 untuk jurnal tingkat menengah hingga menyentuh puncaknya di jurnal-jurnal prestisius portofolio Nature, yang berani membebankan tarif hingga hampir £9.500 (sekitar $11.000) per artikel.
Ketimpangan biaya ini memicu krisis finansial di negara-negara berkembang. Di Brasil, rata-rata APC yang mampu dibayar untuk jurnal akses terbuka berkisar di angka $250, jauh di bawah rata-rata global yang berkisar di $840 pada awal dekade ini, yang mengindikasikan bahwa para peneliti dari Global South secara sistematis tidak mampu berkompetisi di jurnal-jurnal peringkat atas (top-tier) akibat hambatan finansial semata. Sekalipun di negara-negara dengan sumber daya riset yang memadai seperti Selandia Baru, beban ini terasa berat. Sebuah studi komprehensif atas publikasi dari delapan universitas di Selandia Baru pada tahun 2017 menemukan bahwa estimasi biaya per artikel mencapai $1.682 untuk Gold OA dan $2.558 untuk Hybrid OA, dengan total pengeluaran universitas membebankan biaya hingga jutaan dolar, padahal sebagian besar dari artikel (88%) tersebut sebenarnya dapat secara legal disimpan melalui rute Green OA secara gratis di repositori kampus.
Di tengah beban biaya ini, transisi yang coba dijembatani melalui mekanisme Perjanjian Transformatif (Transformative Agreements / TA)—di mana institusi menegosiasikan pembayaran tunggal yang menutupi akses membaca (langganan) sekaligus biaya publikasi OA (APC) bagi para penelitinya—sering kali dipandang hanya mengamankan status quo pendapatan penerbit. Melalui kesepakatan-kesepakatan raksasa yang ditandatangani oleh konsorsium nasional (seperti konsorsium DEAL di Jerman atau CAPES di Brasil dengan Springer, Wiley, dan Elsevier bernilai puluhan juta dolar), penerbit berhasil mengamankan pendapatan mereka tanpa harus mereformasi esensi praktik ekstraktif mereka.
Patologi Ekosistem dan Krisis Integritas Ilmiah Berskala Besar
Peralihan dari model berlangganan ke model berbasis APC menghasilkan disonansi kognitif dalam jaminan kualitas. Ketika pendapatan seorang penerbit berbanding lurus dengan jumlah artikel yang mereka publikasikan (volume-driven), terdapat dorongan finansial yang tersembunyi—meski sering dibantah secara resmi—untuk menurunkan standar penolakan dan memprioritaskan kuantitas di atas keketatan tinjauan sejawat (peer review). Kerentanan model bisnis ini berpuncak pada krisis integritas ilmiah paling masif dalam sejarah akademik kontemporer, yang ditandai dengan menjamurnya "Pabrik Makalah" (Paper Mills).
Invasi Pabrik Makalah (Paper Mills)
Pabrik Makalah diidentifikasi oleh Komite Etika Publikasi (COPE) dan asosiasi STM sebagai operasi terorganisir di mana naskah ilmiah palsu atau hasil pabrikasi diproduksi dan diserahkan kepada jurnal dengan imbalan finansial, dengan tujuan utama menyediakan publikasi mudah bagi peneliti atau menawarkan penjualan posisi kepengarangan (authorship-for-sale). Sindikat ini sangat memahami tekanan publikasi yang dihadapi oleh dokter, akademisi, dan peneliti di seluruh dunia. Seseorang dapat membeli posisi penulis pertama pada makalah yang telah disetujui secara fiktif seharga ribuan dolar.
Laporan komprehensif COPE dan asosiasi STM tahun 2022 menemukan bahwa pada jurnal yang dianalisis, antara 2% hingga 46% naskah yang dikirimkan menunjukkan tanda-tanda berasal dari pabrik makalah. Manipulasi yang dilakukan meliputi penggunaan frasa aneh (tortured phrases) untuk mengelabui deteksi plagiarisme (misalnya mengganti istilah "artificial intelligence" dengan "counterfeit consciousness"), penggunaan templat penulisan berulang, hingga duplikasi dan manipulasi gambar teknis yang rumit.
Keruntuhan Hindawi dan Tsunami Penarikan Kembali (Retractions)
Dampak paling katastropik dari eksploitasi pabrik makalah terjadi pada Hindawi, sebuah penerbit OA berukuran menengah yang tadinya sah namun memiliki infrastruktur editorial yang tipis. Hindawi diakuisisi oleh raksasa penerbitan Wiley senilai $298 juta pada tahun 2021. Sindikat pabrik makalah dengan cepat mengidentifikasi dan mengeksploitasi celah struktural pada sistem "Edisi Khusus" (Special Issues) milik Hindawi. Pada periode 2022-2023, sindikat ini berhasil menempatkan agen-agen mereka sebagai "Editor Tamu", yang kemudian memanipulasi identitas pengulas dan memuluskan jalan bagi ribuan artikel yang dipabrikasi secara industrial.
Ketika anomali ini terbongkar, serangkaian retensi massal pun terjadi, mengubah lanskap penerbitan akademik selamanya. Pada awal tahun 2023, Hindawi mulai menarik sekitar 500 artikel. Skala penarikan ini dengan cepat berlipat ganda; Wiley mengumumkan penarikan lebih dari 8.000 artikel dalam satu tahun—sebuah rekor yang melampaui gabungan seluruh artikel yang pernah ditarik oleh semua penerbit dalam tahun-tahun sebelumnya. Gelombang pembersihan ini berlanjut hingga tahun 2025, yang mengakibatkan akumulasi penarikan kembali lebih dari 11.300 makalah dari mantan jurnal-jurnal Hindawi.
Skandal ini berdampak secara finansial dan reputasional. Perusahaan analitik Clarivate mengeluarkan 19 jurnal Hindawi dari indeks Web of Science yang prestisius karena gagal memenuhi kriteria kualitas. Wiley menderita kerugian yang luar biasa besar: mereka terpaksa mencatatkan penghapusbukuan (write-down) senilai $104 juta, biaya penurunan nilai (impairment charge) sebesar $44 juta, serta harus merelakan potensi pendapatan APC tahunan sekitar $30-$50 juta akibat penutupan sementara berbagai jurnal (total perkiraan kerugian melebihi $178 juta). Pada akhirnya, merek Hindawi dihapuskan dan dimatikan secara total dari operasi pada pertengahan 2024, sementara sisa jurnal yang masih valid dilebur ke dalam portofolio Wiley Open Access.
Hindawi bukan satu-satunya korban. Penerbit ternama lainnya seperti Springer Nature, IOP Publishing, PLOS, serta American Society For Testing And Materials (ASTM) juga telah melakukan penarikan ratusan artikel akibat infiltrasi pabrik makalah dan kompromi dalam prosedur tinjauan sejawat.
Intervensi Teknologi: STM Integrity Hub
Menghadapi kehancuran kepercayaan terhadap integritas rekam ilmiah ini, komunitas penerbitan merespons dengan intervensi kolaboratif berbasis teknologi melalui inisiatif STM Integrity Hub yang diluncurkan pada tahun 2022. Karena pabrik makalah kerap mengirimkan karya yang sama ke berbagai penerbit yang berbeda secara bersamaan, infrastruktur yang terkotak-kotak (silo) tidak lagi memadai.
STM Integrity Hub menyediakan lingkungan berbasis komputasi awan yang aman di mana para penerbit dapat memeriksa naskah yang dikirimkan menggunakan berbagai perangkat penyaringan yang mengintegrasikan intelijen buatan (AI). Hub ini berintegrasi secara langsung dengan sistem manajemen editorial utama (seperti Editorial Manager, ScholarOne, Manuscript Manager) dan menyaring lebih dari 125.000 naskah setiap bulan dari 40 penerbit yang berbeda. Setiap bulannya, platform ini berhasil mencegat sekitar 1.000 pengiriman yang terindikasi sebagai produk pabrik makalah.
Alat ini menggunakan berbagai metrik deteksi multidimensional:
- Paper Mill Checker: Mengevaluasi naskah dengan delapan sinyal aktivitas pabrik makalah terpisah, mengintegrasikan pihak ketiga seperti basis data PubPeer dan Clear Skies Papermill Alarm.
- Duplicate Submission Checker: Fitur andalan yang dikembangkan oleh Elsevier yang memindai pengiriman naskah serentak di berbagai rumah penerbitan secara real-time, tanpa melanggar undang-undang privasi dan antimonopoli.
- Image Integrity Tools: Melibatkan integrasi perangkat lunak spesialis (seperti ImageTwin) yang mampu mendeteksi duplikasi gambar mikroskopik atau uji biologis (Western blot, sitometri) di seluruh corpus literatur global.
Meskipun perangkat AI ini vital dalam perlombaan teknologi senjata melawan peretas akademis, para ahli mencatat bahwa teknologi semata tidak akan mampu membendung krisis ini tanpa adanya reformasi struktural terhadap tekanan "Sistem Publikasi" yang menjadi hulu dari permintaan pasar gelap tersebut.
Intervensi Kebijakan Global: Dari Pendobrak Plan S hingga Reformasi TRP
Melihat kegagalan sistem pasar bebas untuk mempercepat akses terbuka tanpa inflasi biaya, serta kelambanan penerbit komersial dalam beralih dari model hibrida yang memeras, koalisi lembaga pendanaan penelitian Eropa turun tangan dengan pendekatan intervensionis yang agresif.
Radikalisme Plan S dan Strategi Retensi Hak Cipta (RRS)
Pada bulan September 2018, cOAlition S—konsorsium yang dipelopori oleh Science Europe bersama Komisi Eropa dan lembaga pendanaan bergengsi lainnya—meluncurkan Plan S. Inisiatif ini diklasifikasikan sebagai langkah radikal untuk mengelektrifikasi transisi OA. Inti dari Plan S adalah sebuah mandat absolut: mulai tahun 2021, seluruh publikasi ilmiah yang didanai oleh lembaga anggota harus diterbitkan secara Open Access secara langsung dan tanpa masa embargo 12 bulan yang selama ini dipertahankan oleh penerbit. Lebih penting lagi, Plan S melarang pendanaan APC dari kantong dana penelitian untuk dibayarkan kepada jurnal hibrida, kecuali jurnal tersebut secara eksplisit berkomitmen pada "Perjanjian Transformatif" yang berbatas waktu.
Plan S merupakan intervensi ekonomi politik yang berusaha mendekonstruksi hak kepemilikan pengetahuan. Senjata utama koalisi ini adalah Strategi Retensi Hak Cipta (Rights Retention Strategy / RRS). Secara historis, penerbit mewajibkan penulis menyerahkan hak cipta mereka sebagai syarat penerbitan. Melalui RRS, penulis yang didanai oleh cOAlition S diwajibkan untuk menempelkan lisensi terbuka (biasanya CC BY) pada versi manuskrip yang mereka serahkan (AAM). Ini memastikan bahwa, terlepas dari apa yang diklaim oleh penerbit komersial terhadap versi final (Version of Record / VoR), manuskrip AAM tersebut secara hukum dapat langsung diunggah ke repositori bebas secara instan (mendukung rute Green OA) tanpa sengketa hukum atau paksaan embargo. RRS ini telah diakui sebagai medan pertempuran utama antara institusi yang memperjuangkan kemandirian publikasi dan penerbit seperti Springer Nature yang berjuang mempertahankan hegemoni mereka atas komodifikasi kapital akademik.
Implementasi Plan S tidak lepas dari kritik dan perlawanan, yang ironisnya juga datang dari sebagian kalangan akademisi. Sekelompok ilmuwan Eropa, dikoordinasikan oleh Lynn Kamerlin, mempublikasikan penolakan keras terhadap Plan S, berargumen bahwa mandat pemaksaan rute Gold OA ini berbahaya, tidak etis, dan membatasi kebebasan akademik peneliti untuk memilih tempat publikasi (venue). Mereka menggarisbawahi bahwa sistem ini menciptakan lingkungan "pay-to-play" yang sangat berpihak pada akademisi yang berbasis di institusi atau wilayah geografis yang kaya, dan akan mencerai-beraikan kolaborasi internasional dengan negara-negara di luar cOAlition S (termasuk Global South) yang tidak sanggup membayar APC untuk jurnal yang dipatuhi (compliant journals).
"Towards Responsible Publishing" (TRP) dan Pemisahan Publikasi dari Tinjauan Sejawat
Lima tahun setelah Plan S berjalan, cOAlition S menyadari bahwa meskipun akses menjadi lebih terbuka, praktik penerbitan akademik saat ini masih gagal mengikuti laju cepat era digital; diseminasi masih terlalu lambat, biaya terlampau tinggi, dan proses peer review terlalu tertutup. Pada bulan Oktober 2023, cOAlition S merilis dokumen visi yang revolusioner: "Towards Responsible Publishing" (TRP), sebuah usulan untuk membongkar fondasi sistem komunikasi ilmiah itu sendiri.
Proposal TRP secara mendasar mengidentifikasi bahwa model publikasi arus utama terperangkap pada obsesi terhadap versi final yang diterima jurnal. Hal ini memicu siklus penolakan-pengiriman kembali (rejection-resubmission cycle) yang menguras waktu serta menyebabkan hilangnya nilai ulasan sejawat yang konfidensial dan disia-siakan setiap kali artikel ditolak. Selain itu, menggabungkan gerbang pengeditan (editorial gatekeeping) dengan insentif karier akademik (metrik seperti JIF) sangat merusak mentalitas ilmiah.
Visi baru dari TRP didasarkan pada dua prinsip sentral:
- Penulis (sebagai komunitas ilmiah), bukan pemasok pihak ketiga (penerbit komersial), yang berhak memutuskan kapan dan di mana mempublikasikan karya mereka.
- Rekam ilmiah harus mencakup berbagai tahapan (seperti preprint dan draf ulasan), bukan hanya sekadar versi akhir yang dicetak.
Sistem ini sangat bergantung pada model Publish-Review-Curate (PRC), di mana temuan awal segera dipublikasikan di repositori pracetak, diikuti oleh proses open peer review yang dievaluasi secara transparan oleh komunitas, lalu akhirnya dikurasi berdasarkan bobot substansialnya tanpa dominasi keputusan biner editor komersial. Meskipun ide ini menawarkan solusi terhadap stagnasi penerbitan tradisional, konsultasi komunitas mengungkapkan tantangan dalam hal kesiapan kultur institusi untuk mengambil alih peran kuratorial ini, yang dikhawatirkan akan membebani tanggung jawab birokratis pada peneliti secara berlebihan.
Dekolonisasi dan Pemerataan Pengetahuan melalui Diamond Open Access
Sementara ketegangan seputar APC, Plan S, dan kontrol komersial mendominasi belahan bumi Utara, pendekatan otonom yang sama sekali berbeda telah berkembang pesat di pinggiran sistem global. Konsep Diamond Open Access (atau Platinum OA) merujuk pada jurnal dan platform ilmiah yang menyediakan akses baca sepenuhnya gratis sekaligus tidak memungut biaya publikasi apa pun dari penulis (bebas APC). Diestimasi terdapat sekitar 17.000 hingga 29.000 jurnal sains yang menggunakan model ini secara global (merupakan 73% dari jurnal di DOAJ), mayoritas berakar kuat di Amerika Latin, Eropa Timur, dan Asia Tenggara.
Secara operasional dan finansial, jurnal Diamond merepresentasikan model ekonomi yang beroperasi dalam logika fasilitas publik (komunitas). Dengan median biaya penerbitan hanya berkisar pada angka $200 per artikel—sekitar seperenam dari biaya rata-rata pengeluaran jurnal komersial standar—jurnal-jurnal ini bertahan melalui subsidi universitas reguler, hibah lembaga pemerintah, dukungan teknis komunal, dan kerja sukarela para sivitas akademika.
Pentingnya model berkeadilan ini akhirnya diakui oleh komunitas Eropa. Pada Maret 2022, kolaborasi antara Science Europe, cOAlition S, OPERAS, dan lembaga pendanaan Prancis (ANR) melahirkan cetak biru historis berjudul "Action Plan for Diamond Open Access". Rencana aksi ini berusaha membangun kapasitas teknis, menyatukan standar kualitas, mendorong efisiensi sumber daya (interoperabilitas perangkat lunak pengajuan dan metadata), dan memastikan kelestarian pendanaan operasional bagi entitas Diamond yang sebelumnya rapuh dan terisolasi, sembari tetap menghormati keragaman bahasa dan disiplin. Inisiatif ini dengan cepat didukung oleh ratusan organisasi internasional, termasuk asosiasi perpustakaan, kelompok riset di Kroasia dan Finlandia, serta lembaga donor seperti Forte di Swedia.
Momentum global ini terkonsolidasi pada Puncak Global tentang Diamond Open Access (Global Summit on Diamond Open Access) di Toluca, Meksiko pada 2023, dan diteruskan di Cape Town, Afrika Selatan pada tahun 2024. Dihadiri oleh lebih dari 1.100 pemangku kepentingan dari 73 negara dan dipayungi oleh mandat Rekomendasi UNESCO tentang Sains Terbuka, pertemuan ini membuahkan "Deklarasi Toluca-Cape Town". Deklarasi tersebut secara tegas menyatakan bahwa berbagi ilmu pengetahuan adalah hak asasi manusia, dan oleh karena itu pengetahuan akademik harus diperlakukan sebagai barang publik (public good), bersifat non-komersial, serta dikendalikan oleh komunitas (community-owned dan community-led). Deklarasi ini menonjolkan prinsip keadilan sosial dan dekolonisasi sistem pengetahuan, memperingatkan bahwa dominasi penerbit Barat mengancam bibliodiversitas global dan keragaman epistemik yang ditopang oleh tradisi riset serta bahasa lokal.
Paradoks Ekosistem Indonesia: Hegemoni Kuantitatif, Distorsi Kebijakan, dan Krisis Mutu (SINTA)
Di tengah pergeseran lempeng tektonik publikasi global, Indonesia menempati posisi anomali yang sangat menonjol. Melalui integrasi berbagai kebijakan top-down dari pemerintah dan militansi akademis di level institusional, Indonesia menyajikan sebuah lanskap yang memadukan pencapaian infrastruktur akses terbuka berskala masif dengan patologi sistemik yang merusak integritas riset akibat birokratisasi evaluasi.
Dominasi Kuantitatif dan Infrastruktur Repositori Lokal
Secara statistik murni, Indonesia adalah negara super-power dalam ekosistem jurnal Open Access dunia. Data pada Maret 2025 memvalidasi bahwa Indonesia merupakan kontributor terbesar di Directory of Open Access Journals (DOAJ) dengan memuat 2.473 jurnal yang terindeks, melampaui gabungan negara mapan seperti Inggris Raya (2.176), Brasil (1.578), dan Amerika Serikat (1.223). Angka ini merepresentasikan sekitar 11,5% dari 21.457 jurnal open access di seluruh dunia, mencerminkan investasi struktural nasional yang luar biasa. Analisis tren per wilayah juga menobatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan rasio publikasi OA tertinggi secara global, dengan angka mencapai lebih dari 90% naskah yang dapat diakses secara terbuka.
Karakteristik dominan dari ekosistem ini adalah format tata kelola hiper-lokal dan berbasis institusional yang berurat akar secara mendalam pada sistem universitas, bukan dikendalikan oleh vendor raksasa multinasional. Data pemetaan menemukan lebih dari 2.132 jurnal DOAJ beroperasi di bawah payung domain .ac.id. Analisis infrastruktur teknis menunjukkan ketergantungan masif pada Open Journal Systems (OJS) yang dikembangkan oleh Public Knowledge Project (PKP); tercatat ada 23.486 instalasi jurnal berbasis OJS aktif di Indonesia pada tahun 2023, yang tersebar di perguruan tinggi dari Jawa (53,0%) hingga Sumatra (21,0%). Model publikasi ini, di mana editor adalah dosen sukarelawan dan biaya di-subsidi oleh kampus, sangat sejajar dengan cita-cita Diamond Open Access, yang mengusung pengelolaan dari komunitas ke komunitas untuk penyebaran ilmu tanpa biaya (non-profit basis) yang mulai dirintis sejak 1970-an secara manual.
Selain dari kanal jurnal formal, komunitas sains terbuka Indonesia juga mempelopori penggunaan repositori pracetak independen. Mengatasi rintangan sistem penelaahan sejawat tradisional, inisiatif pracetak INArxiv (INA-Rxiv) diluncurkan pada Agustus 2017 pada platform Open Science Framework (OSF) untuk mewadahi penyebaran artikel sebelum ditelaah. Sayangnya, akibat ketiadaan dukungan finansial berkesinambungan dan tuntutan biaya hosting server, INArxiv terpaksa ditutup pada akhir tahun 2020, namun segera bereinkarnasi dengan dukungan dari lembaga sains pemerintah (BRIN) menjadi repositori nasional RINarxiv, yang hingga kini masih menjadi sandaran alternatif Green OA bagi akademisi tanah air.
Kutukan Metrik SINTA dan Jurang Sitasi (Citation Gap)
Meskipun kuantitas produksi ilmiah Indonesia terlihat menakjubkan dari kacamata metrik DOAJ dan jumlah total literatur yang diluncurkan, keberhasilan ini tidak termanifestasi pada kualitas dampak ilmiah (scientific impact) di kancah global. Paradoks kuantitas tanpa kualitas ini sangat kentara. Evaluasi perbandingan menunjukkan bahwa rata-rata perolehan sitasi per artikel dari publikasi Indonesia hanya berkisar pada angka 18,3; angka yang sangat timpang jika dibandingkan dengan sejawat ASEAN lainnya seperti Singapura (dengan rata-rata 298,3 sitasi per artikel) atau Malaysia (76,5 sitasi). Data statistik makro bahkan menemukan adanya korelasi yang secara signifikan negatif (r = -0.44) antara tingginya rasio adopsi OA di Indonesia dengan rata-rata sitasi per artikel yang diraihnya; menandakan bahwa visibilitas open access lokal didominasi oleh jurnal dengan reputasi pengutipan dan jangkauan internasional yang minim.
Disfungsi kualitas ini secara langsung disebabkan oleh kerangka kerja birokratis yang menjadi jangkar evaluasi akademik nasional di Indonesia, yakni Science and Technology Index (SINTA). Diluncurkan secara resmi pada tahun 2017 oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, SINTA dirancang bukan hanya sebagai basis pangkalan data publikasi, melainkan sebagai instrumen hierarkis untuk memeringkat kinerja perguruan tinggi, mengakreditasi jurnal nasional menjadi 6 kelas berbeda (SINTA 1 hingga SINTA 6, setara kategori Akreditasi A hingga C sistem sebelumnya), serta melacak skor produktivitas (S-score) individu para dosen.
Permasalahan paling mendasar dari SINTA terletak pada konstruksi rumusnya. Algoritma penghitungan skor SINTA didasarkan pada bobot pembagian yang secara terang-terangan memprioritaskan penyedia pangkalan data komersial Barat (seperti Scopus dan Web of Science) di atas relevansi substansial. Sebagai contoh, dalam beberapa versi parameter S-score awal, sebuah publikasi jurnal yang terindeks di Scopus diberi bobot konstan maksimal (A x 40), dan h-index penulis di Scopus dikalikan bobot tinggi (E x 16), sementara total jumlah sitasi yang diraih di pangkalan data yang merangkum kearifan lokal seperti Google Scholar hanya menerima bobot residual yang minimalis (dikali 1, maksimal 1.000). Kerangka kerja kuantifikasi buta ini menuai peringatan serius dari pakar saintometrika internasional terkemuka, Ludo Waltman, yang melabeli SINTA sebagai sebuah "ide berbahaya" karena mempromosikan asumsi bahwa evaluasi kualitas penelitian dapat dinilai sepenuhnya melalui kalkulator kuantitatif tanpa mempertimbangkan konteks substansial.
Analisis empiris lanjutan mengenai jurnal-jurnal SINTA bahkan mengonfirmasi kekhawatiran ini: ketika metrik performa tingkat nasional disandingkan dengan metrik sitasi global (seperti h5-index), terbukti bahwa tingkatan kasta S1 hingga S6 tidak merepresentasikan kelas independen secara statistik; di banyak area subjek, jurnal-jurnal beda strata SINTA tidak menunjukkan distribusi sitasi yang dapat dibedakan, yang berarti akreditasi SINTA gagal berfungsi sebagai indikator yang dapat diandalkan untuk kualitas jurnal.
Konsekuensi Patologis: Eksploitasi, Salami Slicing, dan Keterasingan Tridharma
Obsesi pemerintah terhadap kebanggaan nasional melalui peringkat global (World University Rankings) telah memaksa lembaga perguruan tinggi otonom mendistribusikan tekanan yang masif kepada para staf pengajarnya. Setiap pemenuhan laporan Beban Kerja Dosen (BKD), persyaratan ujian doktoral, serta prasyarat kenaikan jenjang jabatan fungsional (jabatan fungsional dosen) dikaitkan dengan penaklukan kriteria publikasi bereputasi tinggi yang didefinisikan secara sempit oleh SINTA (misalnya, kewajiban terindeks Scopus).
Dampak ekonomi dan moralnya sangat melumpuhkan ekosistem intelektual lokal. Dihadapkan dengan realitas pendanaan hibah penelitian nasional (DIKTI) yang sangat konservatif (seringkali hanya berkisar antara Rp 50.000.000 hingga Rp 150.000.000) yang bahkan belum tentu menutupi biaya penelitian lapangan dasar, akademisi dituntut untuk mampu mensponsori publikasi dalam jurnal Gold OA dan Hybrid milik penerbit komersial oligopoli yang merogoh kocek APC ribuan dolar AS ($2000-$3000).
Tekanan struktural SINTA ini menyebabkan tiga patologi perilaku utama pada akademisi Indonesia:
- Ekstraksi Finansial APC: Keterpaksaan ini menyedot proporsi yang teramat signifikan dari APBN riset pendidikan yang terbatas untuk dialihkan secara cuma-cuma demi menyumbang margin keuntungan (sebesar 30-40%) bagi perusahaan seperti Springer, Elsevier, dan Wiley; alih-alih mengoptimalkan repositori Diamond OA SINTA peringkat menengah.
- Salami Slicing dan Sindikat Sitasi: Peneliti didorong untuk menerapkan strategi salami slicing—praktik memotong-motong (fragmentasi) satu dataset penelitian yang seharusnya kohesif menjadi belasan artikel pendek (seperti menggunakan metodologi bibliometrika usang pada objek berita atau film media sosial yang berbeda) sekadar untuk memaksimalkan target volume penerbitan tahunan tanpa menyumbang teorisasi baru yang bermakna. Tak ayal, perilaku "kartel sitasi" tumbuh subur, di mana jejaring kolega atau pengelola jurnal memanipulasi pengutipan silang secara artifisial untuk mengeksploitasi peningkatan h-index (terbukti saat 15 peneliti dikenai sanksi etika pada tahun 2018).
- Keterasingan Linguistik dan Pengabaian Komunitas: Dominasi indikator SINTA/Scopus yang mengagungkan penerbitan berbahasa Inggris telah mendistorsi secara brutal fondasi luhur "Tridharma Perguruan Tinggi" (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat). Tugas pengabdian lokal dan edukasi masyarakat yang sejatinya paling berdampak jika diterbitkan dan dikonsumsi menggunakan Bahasa Indonesia, diabaikan oleh para sarjana, karena hasil karya yang tidak dipoles ke dalam diskursus jurnal Barat tidak memberikan nilai jenjang karir yang signifikan.
Reformasi Asesmen Peneliti Global: Meruntuhkan Rezim Metrik Jurnal (DORA & CoARA)
Secara internasional, sistem publikasi dan metrik yang membahayakan seperti yang dialami di Indonesia tengah menghadapi serangan balik konseptual yang sangat kuat. Upaya global untuk mereformasi evaluasi peneliti menuntut pemutusan ikatan antara penilaian kualitas karya seorang peneliti dengan prestise penerbit (Journal Impact Factor) tempat karya itu bernaung.
Gerakan ini dimulai oleh Deklarasi San Francisco tentang Penilaian Penelitian (San Francisco Declaration on Research Assessment / DORA) pada tahun 2012, serta Manifesto Leiden pada 2015, yang secara tegas mendesak komite promosi universitas, sponsor pendanaan, dan pembuat kebijakan untuk menghentikan penyalahgunaan Impact Factor berbasis jurnal sebagai indikator kualitatif pengganti yang semu. DORA merekomendasikan asesmen berfokus pada merit inheren dari penelitian, mendorong perlakuan transparan, dan mengevaluasi portofolio yang lebih luas di luar jurnal tradisional (termasuk dampak paten, kebijakan, perangkat lunak, hingga pracetak).
Lebih dari sekadar deklarasi deklaratif, momentum ini baru saja diformalkan secara birokratis pada tingkat struktural tertinggi lewat inisiatif Coalition for Advancing Research Assessment (CoARA) pada tanggal 1 Januari 2022, di bawah orkestrasi Science Europe dan Komisi Eropa. Berbeda dengan DORA yang menargetkan individu, CoARA ditujukan secara eksklusif bagi koalisi aliansi institusional (universitas, otoritas pendanaan nasional, dan infrastruktur penelitian) untuk mengubah regulasi sistemik dari dalam.
Hingga saat ini, ratusan pimpinan lembaga riset (termasuk European University Association / EUA dan Kantor Open Science Helmholtz Association Jerman) telah menandatangani persetujuan Perjanjian CoARA (Agreement on Reforming Research Assessment), yang memuat sepuluh pilar komitmen spesifik. Komitmen sentral mencakup: menghindari peringkat hierarkis jurnal organisasi pengindeks sebagai proksi mutu, memprioritaskan peninjauan pakar lintas sejawat kualitatif di atas matrik indikator belaka (penghapusan absolut indikator JIF maupun h-index sebagai dewa pengukuran mandiri), dan menanamkan sumber daya logistik (pendanaan) langsung untuk mengubah prosedur penilaian kepegawaian institusi (tenure-track review). Melalui inisiatif seperti CoARA dan DORA, diharapkan penyakit sistemik seperti kartelisasi sitasi, publikasi abal-abal pada "Pabrik Makalah", serta penyembahan buta algoritma (seperti pada fenomena indeks SINTA) dapat diamputasi hingga ke akarnya.
Evolusi Konflik Hak Cipta: Ancaman GenAI terhadap Repositori Keterbukaan Ilmiah
Ironisnya, infrastruktur akses terbuka dan gerakan sains terbuka (Open Science) yang dengan susah payah dibangun selama 20 tahun ini mendapati diri mereka terancam oleh kemajuan teknologi kontemporer: kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI). Pembangunan dan pelatihan arsitektur fondasional Large Language Models (LLMs) dalam sektor AI Generatif (GenAI) sangat bergantung pada akuisisi mahadata berkualitas (high-quality, diverse datasets) melalui teknik web scraping otomatis guna mempelajari pola struktural dan kognitif pengetahuan manusia.
Telah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar pangkalan korpus beranotasi jurnal saintifik dan repositori OA yang direnggut oleh perusahaan pencipta GenAI adalah berstatus hak cipta. Mekanisme penambangan yang disebut Penambangan Teks dan Data (Text and Data Mining / TDM) ini telah memicu wilayah abu-abu konfrontasi regulasi hak cipta global. Di yurisdiksi Amerika Serikat, perusahaan teknologi berargumen bahwa agregasi korpus akademik ini berkedok doktrin "Penggunaan Wajar" (Fair Use) untuk aktivitas riset nirlaba, di mana transformasi data diutamakan dibandingkan potensi merugikan. Namun, mengingat alat keluaran GenAI (seperti ChatGPT atau model prediktif) kini telah merajai komersialisasi pasar global, berlindung di balik payung nirlaba kian tidak masuk akal, mendorong inisiatif hukum transparansi seperti Rancangan Undang-Undang Pengungkapan Hak Cipta AI Generatif (Generative AI Copyright Disclosure Act) di California pada 2024, meskipun regulasi ini dinilai tidak cukup memberi perlindungan hak tolak (opt-out) pada para intelektual pencipta data latih tersebut.
Sementara itu, regulasi di tingkat benua biru berupaya mengatasi anomali ini. Sesuai Pasal 4 dari arahan Uni Eropa (Petunjuk Copyright in the Digital Single Market / CDSM), tindakan reproduksi komersial TDM diperbolehkan terhadap karya ilmiah yang didapat secara sah (seperti artikel Open Access atau via pendaftaran resmi berlangganan perpustakaan), kecuali—dan ini adalah titik vitalnya—jika otoritas hak cipta secara ekspresif mencanangkan sinyal pernyataan "opt-out" berbasis metadata khusus (pembacaan mesin / machine-readable reservation) terhadap panen data.
Sayangnya, dalam ketidakpastian tata kelola opt-out yang belum diinstitusionalisasi secara teknis ini, para penerbit besar akademik kembali menemukan momentum monopoli kapitalisasi ganda (triple-dipping). Merasa memegang tongkat penyerahan klausul hak cipta (copyright assignment) tanpa persetujuan orisinal perintis, raksasa penyedia pangkalan data penerbitan seperti Taylor & Francis, Wiley, dan Oxford University Press (OUP) diam-diam mengeksploitasi data paywall dan OA mereka, melakukan negosiasi lisensi tertutup senilai jutaan poundsterling dengan korporasi semacam Microsoft guna menyerahkan jutaan artikel kajian penelitian murni sebagai bahan training data raksasa AI mereka. Akademisi merespons tindakan sepihak ekstraksi ini dengan amarah; mereka merasa dikhianati dan dihilangkan otonomi karyanya karena selain mereka telah mendanai mahal melalui APC demi ideologi OA, karya mereka kini dijual, diparafrase, dan dikanibalisasi sistem algoritma prediktif, tanpa rujukan (sitasi atribusi keaslian) maupun redistribusi keuntungan royalti finansial secuilpun bagi perguruan tinggi.
Kesimpulan: Evaluasi Kritis dan Rekomendasi Kebijakan (Way Forward)
Lintasan sejarah gerakan Akses Terbuka (Open Access) menceritakan perjalanan sebuah aspirasi publik murni yang terus berhadapan dengan insting kapitalisasi korporat. Dari transisi yang mahal melalui hiper-inflasi APC pada model Gold dan Hybrid OA, hingga ancaman kolapsnya standar kendali mutu ilmiah (peer review) lewat proliferasi "Pabrik Makalah" (Paper Mills), industri ini terbukti sangat ringkih terhadap godaan kuantitas berbasis finansial. Di atas itu, tantangan baru dalam tata kelola hak kekayaan intelektual (HAKI) akibat operasi ekstraktif Kecerdasan Buatan Generatif (GenAI) menegaskan eksploitasi baru terhadap karya komunitas ilmuwan global yang telah bersusah payah berpartisipasi di alam transparansi sains.
Analisis ini menaruh perhatian yang amat masif terhadap anomali di Indonesia, di mana sistem pangkalan data nasional SINTA secara sistematis telah memelintir niat mulia Diamond OA lokal menjadi kebiasaan toksik untuk memanipulasi kriteria kepangkatan melalui ketaatan buta terhadap metrik indikator komersial (Scopus, JIF, h-index). Hal ini merusak efisiensi riset, mendrainase kekayaan hibah riset yang minim menuju korporasi Barat untuk APC yang fantastis, serta mencerabut esensi tripartit (Tridharma) akademisi agar selaras pada norma sosio-budaya kebutuhan masyarakat Indonesia di wilayah masing-masing.
Rekomendasi Tindakan Strategis untuk Pembuat Kebijakan (Khususnya di Lingkup Indonesia):
- Dekonstruksi Algoritma Evaluasi SINTA (Rekalibrasi Menuju DORA & CoARA): Pemerintah (Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi) secara imperatif harus membongkar struktur rumus SINTA yang bias terhadap metrik indeksasi komersial. Sistem kenaikan pangkat fungsional dosen dan kriteria kelulusan pascasarjana harus dijauhkan dari patokan kuantitas jumlah jurnal terindeks bergengsi (Journal Impact Factor). Penilaian harus beralih menuju penilaian naratif berfokus kualitatif sebagaimana dicetuskan deklarasi CoARA, dengan pengakuan substansial terhadap luaran penelitian seperti monograf bahasa lokal, dokumen rancangan kebijakan (policy briefs), pracetak (preprints seperti RINarxiv), dan program pengabdian pemberdayaan masyarakat.
- Pemutusan Aliran Kapital (APC) Menuju Pemberdayaan Infrastruktur Repositori Mandiri (Diamond OA): Melarang penggunaan dari bagian signifikan APBN hibah penelitian publik untuk mendanai Biaya Pemrosesan Artikel (Article Processing Charges / APC) hibrida dan penerbit multinasional eksploitatif. Sebaliknya, pemerintah wajib merealokasi anggaran tersebut untuk menopang ketahanan server (hosting), memberikan kompensasi peer reviewer internal, serta mengintegrasikan kapasitas jurnal-jurnal Diamond OA (OJS berbasis domain .ac.id) di tingkat lokal, mengawal mereka masuk secara solid pada standar kualitas dan etika interoperabilitas metadata di kancah Deklarasi Toluca-Cape Town.
- Implementasi Hak Retensi Kepengarangan (Rights Retention Strategy / RRS): Mengadopsi pedoman advokasi Plan S di lingkungan institusional nasional, mewajibkan pimpinan universitas merancang draft kebijakan agar para akademisinya tidak lagi menyerahkan hak cipta penuh terhadap penerbit komersial, melainkan memberlakukan embargo-nol (zero-embargo) dengan lisensi terbuka CC-BY pada versi draf akhir tulisan (AAM), lalu mendorongnya ke repositori kampus publik lewat rute Green OA. Hal ini akan menciptakan demokratisasi radikal diseminasi karya tanpa penindasan inflasi akses pendanaan.
- Benteng Protokol Opt-Out Anti-Eksploitasi GenAI: Kementerian, konsorsium perpustakaan (university library consortia), beserta sistem penyedia jurnal daring seperti GARUDA dan SINTA harus mengembangkan serta menghadirkan rambu indikator (misalnya CC Signals) berupa lisensi metadata machine-readable di seluruh literatur OA nasional guna secara definitif menolak proses panen penambangan (TDM) paksa oleh perusahaan infrastruktur intelijen buatan (AI) yang bekerja tanpa alokasi kerangka pertanggungjawaban ganti rugi (atribusi dan imbalan finansial properti korporat).
Pembebasan dari rantai sirkulasi hierarki akademik tidak akan pernah tercapai jika reformasi hanya berpuas pada peralihan platform digital maupun revisi lisensi berbayar; dekolonisasi sistem komunikasi pengetahuan mutlak membedah ontologi metrik keilmuan, serta merebut otonomi peneliti dalam menghargai bobot filosofi sains mereka sendiri di panggung dunia.
Sumber yang digunakan dalam laporan:
eprints.whiterose.ac.ukAchieving global open access: the need for scientific, epistemic and participatory openness - White Rose Research OnlineTerbuka di jendela baruscielo.brImpact of Open Access Policy on Brazilian Science and Global Trends - SciELOTerbuka di jendela baruoaaustralasia.orgNovember 2020 Newsletter | Open Access AustralasiaTerbuka di jendela baruemerald.comThe scientific periphery and new flows of knowledge: the case of regional preprint servers | Online Information Review - Emerald InsightTerbuka di jendela baruscribd.comPublication Costs in Open Access Journals | PDF - ScribdTerbuka di jendela baruforbetterscience.comResponse to Plan S from Academic Researchers: Unethical, Too Risky! - For Better ScienceTerbuka di jendela barumanusights.comIs Hindawi Predatory? A Practical Publisher Verdict - ManusightsTerbuka di jendela barucasrai.orgPaper Mills in Research: How They Work - CASRAITerbuka di jendela baruarxiv.orgGenerative AI Training and Copyright Law - arXivTerbuka di jendela baruacademia.eduGlobal Mapping of Open Access Literature Availability in the Area of Scientometrics Research during 2012-2021 - Academia.eduTerbuka di jendela baruqeios.comEvaluation of Indonesia's Scientific Publication Performance: Quantity, Quality, Open Access, and Comparison with ASEAN Countries - QeiosTerbuka di jendela barucasrai.orgArticle Processing Charge (APC): Definition,… — CASRAITerbuka di jendela barublogs.otago.ac.nzWhat does it cost to be open? Sometimes a lot, sometimes nothing (Open Access Week 2019) - Blogging: University of OtagoTerbuka di jendela baruesac-initiative.orgESAC Reference Guide to Transformative Agreements: PreparationTerbuka di jendela baruencyclo.ouvrirlascience.frDiamond open access - Small Encyclopedia of Open ScienceTerbuka di jendela barublog.hrz.tu-chemnitz.deTag Archives: open access transformation - TU ChemnitzTerbuka di jendela baruresearchgate.netGlobal Mapping of Open Access Literature Availability in the Area of Scientometrics Research during 2012-2021 - ResearchGateTerbuka di jendela baruresearchgate.netExploring Open Access Publishing Trends in the State Universities of North East India: A Scientometric Study | Request PDF - ResearchGateTerbuka di jendela barujscires.orgGold Open Access Publishing in ASEAN Countries: A Comparative StudyTerbuka di jendela barupure.mpg.deTransition to Open‐Access Publishing and to Open Science - MPG.PuReTerbuka di jendela barublog.scielo.orgTransformative agreements in Brazil: necessary progress or increased dependence?Terbuka di jendela barujournals.plos.orgOpen access publishers: The new players | PLOS One - Research journalsTerbuka di jendela barumdpi.comThe Politics of Rights Retention - MDPITerbuka di jendela barueua.euReclaiming academic ownership of the scholarly communication system - European University Association (EUA)Terbuka di jendela barupmc.ncbi.nlm.nih.govOnly two out of five articles by New Zealand researchers are free-to-access: a multiple API study of access, citations, cost of Article Processing Charges (APC), and the potential to increase the proportion of open access - PMCTerbuka di jendela baruutppublishing.comGlobal Research Trends in Predatory Publishing: A Bibliometric and Topic Analysis | Journal of Scholarly Publishing - University of Toronto PressTerbuka di jendela barunewsroom.taylorandfrancisgroup.comTaylor & Francis Welcomes the Launch of STM's Paper Mill Detection ToolTerbuka di jendela barujmir.orgAuthorship-for-Sale: From Fake Papers to Forensic ScientometricsTerbuka di jendela barucsescienceeditor.orgThe STM Integrity Hub: Current Status and Recent Developments - Science EditorTerbuka di jendela baruretractionwatch.comHindawi reveals process for retracting more than 8000 paper mill articlesTerbuka di jendela baruretractionwatch.comWiley and Hindawi to retract 1200 more papers for compromised peer reviewTerbuka di jendela baruretractionwatch.comhindawi - Retraction WatchTerbuka di jendela baruretractionwatch.comWiley journal retracts over 200 more papersTerbuka di jendela barucasrai.orgWhat Happened to Hindawi? Wiley's Retraction Crisis Explained - CASRAITerbuka di jendela baruretractionwatch.comJournal retracts nearly 150 articles for compromised peer reviewTerbuka di jendela barustm-assoc.orgSTM Integrity Hub | Detecting Paper Mills at ScaleTerbuka di jendela barublog.mdpi.comEthicality: AI Guardrails for Research Integrity - MDPI BlogTerbuka di jendela barupublicationethics.orgPublication misconduct tools | COPE: Committee on Publication EthicsTerbuka di jendela barustm-assoc.orgSTM Solutions releases MVP of new paper mill detection toolTerbuka di jendela baruelsevier.comA community-driven boost for research integrity - ElsevierTerbuka di jendela barutandfonline.comPolitical economy of Plan S: a post-foundational perspective on Open AccessTerbuka di jendela barublog.scholasticahq.comAnswers to top journal publisher Plan S FAQs [Updated with the latest info]Terbuka di jendela barueua.euLaunch of the Coalition on Advancing Research Assessment (CoARA) - European University Association (EUA)Terbuka di jendela barucoalition-s.orgTowards responsible publishing: a proposal from cOAlition STerbuka di jendela baruopen-access.networkGlossary - open-access.networkTerbuka di jendela barulirias.kuleuven.be“Licensing Markets Academic Publishing: Open ... - Lirias - KU LeuvenTerbuka di jendela barucoalition-s.orgTowards Responsible Publishing | Plan S - cOAlition STerbuka di jendela baruzenodo.org“Towards Responsible Publishing”: Findings from a global stakeholder consultation - ZenodoTerbuka di jendela barulib4ri.chTowards an open, scholar-led communication ecosystem: a new proposal from cOAlition STerbuka di jendela barucoalition-s.orgIntroducing the “Towards Responsible Publishing” proposal from cOAlition S | Plan STerbuka di jendela baruresearchgate.net(PDF) Implementing a "publish, then review" model of publishing - ResearchGateTerbuka di jendela barumetaror.orgWhy is change in scholarly communication so hard to imagine? Findings from a stakeholder consultation for the cOAlition S proposal 'Towards Responsible Publishing' - MetaRORTerbuka di jendela baruscholarlykitchen.sspnet.orgAsk The Chefs: cOAlition S's "Towards Responsible Publishing" - The Scholarly KitchenTerbuka di jendela barueua.euEUA signs Action Plan for Diamond Open AccessTerbuka di jendela baruoperas-eu.orgOpen Access Diamond - OPERASTerbuka di jendela baruzenodo.orgAction Plan for Diamond Open Access - ZenodoTerbuka di jendela baruscienceeurope.orgAction Plan for Diamond Open Access - Science EuropeTerbuka di jendela baruforte.seForte supports action plan for diamond open accessTerbuka di jendela barublog.tib.euTIB endorses Action Plan for Diamond Open AccessTerbuka di jendela baruoperas-eu.orgPRESS RELEASE - OPERASTerbuka di jendela barusparcopen.orgToluca-Cape Town Declaration is a Milestone for Recognizing Science as a Public GoodTerbuka di jendela barudiamondoasummit.org3rd Global Summit on Diamond Open Access: HomeTerbuka di jendela baruospolicyobservatory.uvic.caRecap of the 2nd Global Summit on Diamond Open Access, 2024Terbuka di jendela barublog.doaj.orgUnderstanding the Growth of Indonesian Journals in DOAJTerbuka di jendela baruescienceediting.orgAccessibility, language, discipline, and indexing status of university journals that use Open Journal Systems in Indonesia: a case study - Science EditingTerbuka di jendela barukatinamagazine.orgThe Thwarted Progress of Open Access in Indonesia | Katina MagazineTerbuka di jendela baruresearchgate.netPreprints as a driver of open science: Opportunities for Southeast Asia - ResearchGateTerbuka di jendela baruosf.ioINA-Rxiv - OSFTerbuka di jendela barupmc.ncbi.nlm.nih.govPreprints as a driver of open science: Opportunities for Southeast Asia - PMCTerbuka di jendela baruiaesjournal.comScience and Technology Index (SINTA): An overview - IAES JournalsTerbuka di jendela baruescienceediting.orgProposal of the S-score for measuring the performance of researchers, institutions, and journals in Indonesia - Science EditingTerbuka di jendela baruresearchgate.netThe Comparison of Scimago Institutions Rankings (SIR), Scopus, and SINTA Profile: A Case of The Top Indonesian Institutions - ResearchGateTerbuka di jendela barucasrai.orgSINTA (Science and Technology Index): Indonesia's National Researcher, Journal, and Institution Ranking System - CASRAITerbuka di jendela baruemerald.comKnowledge, numbers and scholarly integrity: the shallow research culture in Indonesian communication education | Journal of Organizational Ethnography - Emerald InsightTerbuka di jendela baruieomsociety.orgBusiness Intelligence and Sinta Analytics to Improve Indonesian National Research in Education 4.0 Era - IEOM SocietyTerbuka di jendela baruresearchgate.netRanking researchers: Evidence from Indonesia | Request PDF - ResearchGateTerbuka di jendela baruuos.ac.ukResponsible and Fair Research Assessment - University of SuffolkTerbuka di jendela barucasrai.orgCoARA (Coalition for Advancing Research Assessment): The Complete Guide - CASRAITerbuka di jendela baruscienceeurope.orgCoalition for Advancing Research Assessment (CoARA) launched, Steering Board electedTerbuka di jendela baruos.helmholtz.deCoARA and DORA - Helmholtz - Association of German Research CentresTerbuka di jendela barucoara.orgFAQ – CoARA - Coalition for Advancing Research AssessmentTerbuka di jendela baruleidenmadtrics.nlCopyright, GenAI, and the future of academic publishing - Leiden MadtricsTerbuka di jendela baruresearchgate.net(PDF) Technical, legal, and ethical challenges of generative artificial intelligence: an analysis of the governance of training data and copyrights - ResearchGateTerbuka di jendela barumetaror.orgWho owns the knowledge? Copyright, genAI, and the future of academic publishingTerbuka di jendela barufrontiersin.orgLimitations of current copyright frameworks for large language models trained on scientific literature - FrontiersTerbuka di jendela baruverfassungsblog.deCopyright, AI, and the Future of Internet Search before the CJEU - VerfassungsblogTerbuka di jendela barulibrary.ed.ac.ukGenerative AI use in academic publishing | Library - The University of Edinburgh